Jumat, 06 September 2019

RESENSI BUKU NOVEL CINTA ENRICO PERPUSTAKAN UNY

IDENTITAS BUKU
Judul Buku    :  Cerita Cinta Enriko
Pengarang     :    Ayu Utami
Penerbit         :    PT Gramedia Pusat Utama
Kota Tempat Terbit      :   Jakarta
Tahun Terbit                 :           2012
Tebal                             :           Xiii +  244 Halaman
Harga                            :           Rp 50.000,00

                  BIOGRAFI PENGARANG
Image result for IDENTITAS AYU UTAMIJustina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami adalah aktivis jurnalis dan sastrawan berkebangsaan Indonesia. Ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Wikipedia
Lahir: 21 November 1968 (usia 50 tahun), Bogor
Pasangan: Erik Prasetya (m. 2011)
Film: Ruma Maida
Pendidikan: Thomson Foundation (1995), Universitas Indonesia
Orang Tua: Johanes Hadi Sutaryo, Bernadeta Suhartina

SINOPSIS NOVEL
Enriko merupakan seorang anak yang lahir bertepat pada hari revormasi dimana pemberontakan militer pecah. Ketika itu dia baru orok merah berumur sehari dan harus dibawa mengungsi dan masuk hutan untuk bergelirya. Ayahnya bernama Letda Muhamad Irsad seorang Letnan Angkatan Darat yang lahir di Pulau Madura beragama muslim dan ibunya yang bernama Syrnie Masmirah yang lahir di Pulau Jawa tepatnya di kudus beragama non muslim (kristen katolik). Enrico memiliki kakak perempuan yang bernama Sanda. Sanda meningal ketika berumur masih sangat muda karena penyakit asma.  
Ibu Enrico merupakan seorang peternak ayam petelur yang ulung. Telur-telur ayam tersebut akan dijualnya ke kota provinsi yang jaraknya setengah hari perjalanan. ketika Enriko dan kakak perempuannya di rumah dan tidak ada siapapun selain mereka berdua tiba-tiba seekor ayam hitam menerjang dan mendarat dihadapan Enriko dan Sanda. Kakak Enriko berusaha mengusir ayam tersebut dan usaha kakanya pun berhasil. Setelah kejadia itu ayah Enriko melarang istrinya untuk berjualan telur ke kota provinsi lagi.
Enriko lahir di Padang, 15 Februari 1958 yang bertepatan pula pada hari yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia yaitu Pengumuman Deklarasi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia yang kelak dikenal sebagai hari pemberontakan. Nama Enrico diambil dari penyanyi idaman ibunya yaitu Enrico Caruso seorang penyanyi tenor Italia. Namun ayahnya Irsad menolak nama itu kemudan diganti dengan Prasetya Riska yang sesuai dengan lingkungan militernya dengan panggilan sayang Rico. Enrico.
Revolusi yang diumumka di padang tidak dianggap sebagai tuntutan otonomi daerah yang tulus oleh presiden Soekarno. Soekarno memusuhi blok Barat dan lebih memberi keleluasaan kepada blog Komunis dalam permulaan perang dingin itu. Jawa akan menumpas pemberontakan sebagai bagian dari perang melawan campur tangan Amerika Serikat terhadap kemandirian Indonesia. Sumatra menyebut revolusi. Jawa menyebut pemberontakan. Tapi dalam pasukan pemberontakan itu terdapat banyak keluarga prajurit Jawa serta Madura termasuk kedua orang tua Enrico.
Enrico beranjak dewasa dan ketika itu Enrico masuk ke sekolah dasar (SD) Andreas yang dilaksanakan pada sore hari. Seiring dengan kedewasaannya Enrico yang awalnya anak penurut dengan kedua orang tuannya kini berubah menjadi anak yang nakal. Kenakalan itu berawal dari pengaruh teman-temannya dan ia mulai mencoba hal-hal baru yang menuruntnya begitulah seorang lelaki yang jantan. Tahun 1975 yang pada saat itu Enrico menginjak umur 17 tahun, pada saat itu hanya satu permintaanya kepada ayahnya yaitu setelah lulus dari SMAN-1 ia akan melanjutkan pendidikan ke ITB. Tujuan enrico hanya satu yaitu kebebasan. Tahun 1977 enrico telah resmi menjadi mahasiswa salah satu Universitas di Bandung yaitu ITB dengan Jurusan Pertambangan. Pada saat itu gejolak terjadi dimana-mana dan mahasiswa memiliki kebebasan besuara untuk menggagalkan terpilihnya kembali presiden Soeharto menjadi presiden Republik Indonesia. Enriko pun ikut dalam gerakan-gerakan mahasiswa yang anti terhadap terpilihnya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia.
Selama di Bandung Enrico telah merasakan hawa kebebasan yang ia idam-idamkan semanjak di Sumatra. Ia mengenal berbagai macam perjudian, mengkonsumsi minuman keras dan bermain wanita, dan kini itulah jalan yang ia pilih sampai akhir hayatnya. Enrico tidak mengenal agama dan bisa di sebut Enrico ateis yang tidak mengenal satu agamapun. Setelah sepuluh tahun kepergian Enrico ke Jawa Ibunya meningal karena hepatitis, kemudian beberapa tahun setelah itu yaitu bertepat pada tanggal 17 agustus tahun 2000 ayahnya pun meninggal dan ia hidup sebatang kara.
Karena sejak awal tujuannya hanya satu yaitu menginginkan kebebasan maka itulah yang ia dapatkan sekarang, tanpa rasa cinta, cita-cita, agama dan tujuan hidup, dan segala kebebasan lainnya. Enriko hidup sebatang kara, hidup dengan penuh kebebasan, bergontak-ganti pasangan tidur dan sebagainnya. Namun, suatu ketika dia menemukan perempuan yang menurutnya berbeda dari perempuan lain, sebut saja perempuan itu bernama A. A merupakan perempuan yang tak ingin menikah dan tak ingin memiliki anak karena menurutnya perempuan terlalu ditekankan oleh nilai, keluarga, dan masyarakat.
Tahun 2008 Enriko menginjak umur 50 tahun dan belum juga menikah meskipun Enriko dan A tinggal satu atap dan satu kamar. Namun, pada tahun 17 agustus 2011, Prasetya Riska (Enrico) dan Justina A pun menikah setelah mereka menyadari bahwa pernikahan itu penting dan harus. Ya, begitulah kehidupan yang mereka jalani selama ini.


KELEMAHAN BUKU

ada terdapat banyak ulasan yang menggambarkan cerita enrico yang di ulang, sehingga pembaca merasa bosan dengan paparan yang di ulang

KELEBIHAN BUKU
buku ini memiliki bobot bahasa yang terbilang ringan, santai, dan sangat mudah di pahami

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda